Jika brother ditanya
tentang apa sih tujuan kamu hidup di dunia? wadoh,
bagi orang ga mudah percaya sama
ideologi di dunia macam saya. haha, “ga mudah percaya” adalah mungkin trik saya
atau mungkin kita dalam menyembunyikan yang dianggap orang “ tak ada pendirian
pasti”, alias “labil”. soalnya setipis kulit ari sih beda-innya hahaha.
(dalam hati: kenapa si harus tujuan hidup yang orang ini bicara-in? ga da kerjaan lain tah?) haha.. waduh bro masalahnya kita hidup untuk
apa dong kalo engga punya tujuan?. Jawaban inilah yang perlu kita pertimbangkan
karena tujuan hidup merupakan alasan kenapa kita hidup di dunia. Jawaban kita
berdiri di bumi, bayang-in aja
manusia hidup engga ada
program-program yang harus kita lakukan di dunia. mati aja bro (jangan dilaku-in beneran ya bro) hahaha
Nah klo saya ditanya “apa sih tujuan hidup lo?”. Gua bakal mengalami masalah, mikir keras, dan akhirnya “not found” dalam otak saya hahaha. permasalahannya adalah ga mudah percaya alias orang labil macam saya, adalah lo naggung dalam idup, misalnya:
1. Kata temen saya: hidup untuk bahagia
Wah ini mirip dengan paham hedonisme ya.. Haha, tapi ternyata
anggapan saya salah bro, karena baginya bahagia ga harus apa yang diinginkan itu
terpenuhi, tapi asal hati merasa “cukup dan senang” itu udah bahagia bro, ga nyusahin orang lain, masalahnya adalah orang seperti saya ga pernah merasa cukup bro ingin ini,
itu, dan sebagainya .
Saya juga melihat bahwa kita hidup tak pernah bisa mulus bahagia
mulu. tapi akan selalu ada kesedihan-kesedihan. Ketika kita sudah sangat merasa
bahagia, maka sedikit sekali hal kecil atau hal yang membuat kita senang hilang
kita akan sangat sensitif dan akhirnya
bro bertemu dengan yang namanya “galau berjuta rasa” hahaha.. Itulah yang
saya hadapi, bahwasanya manusia semakin bahagia ia juga besar kemungkinan
menerima rasa sakit dengan rasa yang “sedikit” lebih sakit ketimbang orang yang
anggap biasa. Karena mungkin hukum ada cahaya disitu juga ada bayangan berlaku bro (haha ngutip Naruto).
2. Saya hidup ya untuk orang lain
Anggapan kita ada karena (dianggap) orang lain itu logis bener bro, kita hidup adalah untuk
bergaul bareng temen, atau keluarga,
misalnya ortu, istri, anak atau orang
lain gitu-lah. intinya adalah asal
orang lain (yang menerima kita) itu seneng
ya artinya kita juga seneng. Orang
ini baik bener ya bro, hahaha.. Ga
rugi punya temen seperti ini,
Tapi masalahnya bro, apakah ini tujuan hidup kita?, coba dipikir
dulu geh, enggak
selamanya orang yang menjadi tujuan hidup kita bisa sebaik kita, bisa jadi dia
musuh, dan gimana kalau tujuan hidup kita misalnya musnah atau berpaling? waah.. Mungkin orang seperti ini bisa
bunuh diri. Bisa sih, Mungkin
mengubah tujuan hidupnya dengan orang lain adalah jalan lain yang bisa dia
peroleh, Akan tetapi bahwa telah memutuskan tujuan kita hidup adalah untuk
“dia” telah berubah, maka apa lagi makna sebenarnya tujuan hidup, karena adalah “hanya dia” alasan kita hidup jika
berganti atau hilang, artinya juga hilang dong
maknanya sebagai tujuan hidup. labil
deh hahaha….
3. Mau jawab saya idup karena dan untuk Tuhan
Nah ini mungkin sebagian dari saya bisa menerimanya, tapi bagi saya,
Tuhan-pun ga yakin bakal terima saya (soalnya syarat dan ketentuan tetap
berlaku bro dan saya mungkin ga memenuhi syarat Tuhan yang berlaku di agama
saya, hahaha).
Agama A bilang paling benar,
terus agama B-nyalah yang paling benar, trus agama C lah yang pualing benar. trus mana yang benar A,
B, atau C?. Orang labil macam saya ya cuma bisa ngeliat aja debat2 agama,
perang, intrik, dan persaingan ga berkesudahan gara-gara ngerasa paling benar.
Selain itu permasalahannya adalah bahwa bukan aku pula yang menentukan
masuk surga atau enggak tapi kenyataannya adalah Tuhan sendiri. Bagi orang yang taat
agama, sudah pasti jawabannya tujuan hidupnya semata-mata adalah untuk tuhan,
tapi bagi saya yang labil, selalu dirundung kebingungan Tuhan mana yang benar?
karena bagi tiap agama, tuhan yang berkuasa ya cuma tuhannya itulah.
Karena saya sulit percaya menjadi kendala saya untuk mempercayai
pada satu agama, mungkin kamu bilang saya atheis,
atau orang yang gila “aneh” dengan konsep liberalnya yang berlatarbelakang
pluralitas ekstrem. Terserah kamu aja,
saya mah terima (males diajak debat hahah), jika kamu bilang saya atheis (dalam
artian bahwa saya enggak percaya adanya tuhan)
yang pasti saya percaya adanya Tuhan untuk menjawab keberadaan alam
semesta yang ngeksis ini, haha
mungkin saya butuh proses belajar agama lebih dalam untuk mengerti.
Klo kamu bilang saya orang liberal dengan pluralisnya, saya mungkin
iyain aja, yah mau gimana lagi bro, saya enggak
cuma gaul sama satu agama saja, saya
lahir di Indonesia yang memiliki beragam etnik dan agama. Mau engga mau saya harus bergaul dengan
mereka. Dengan sendirinya saya merasa mereka memiliki budaya dan kepercayaan
yang intinya sama dengan saya cuma caranya aja yang beda. Mereka juga hidup
layaknya kita, punya budaya berdasarkan perasaan dan punya budaya yang juga
berdasarkan kasih, sama aja.
Gimana dengan Proses Hidup
?
Mungkin untuk menjawab sedikit pertanyaan saya di atas adalah kata
“proses”, (dalem hati : loh kenapa proses?,kamu mau lari ya dari permasalahan tentang tujuan hidup yang ga jelasmu itu?) hahaha jujur saya iya-kan, saya mencoba lari dan
menghindari dari permasalahan Tujuan Hidup dalam diri yang “not found” diatas. Tapi setidaknya bagi
saya ada kaitannya kok, hehehe.
Bicara proses hidup dan bicara tujuan hidup mana yang paling sesuai
adalah seperti menjawab pertanyaan duluan mana ayam atau telor ayam hahaha,
terserah kamu. Namun bagi saya Tujuan Hidup itu Imajiner alias belum tentu ada
atau akan terjadi. Seperti kamu mengukur dengan penggaris, saya tidak yakin
bahwa itu penggaris menunjukkan semisal lurus mutlak bro. tidak ada satu benda-pun
di dunia ini yang benar-benar lurus mutlak, iya tho?.
Jika kamu bertanya apa tujuan hidupmu dengan konsep bahwa tujuan
hidup manusia itu mutlak, maka akan selalu ada tujuan hidup lain yang ingin
dicapai karena keinginan. Selalu ada pengecualian-pengecualian yang nampaknya
saling bertentangan. misalnya tujuan hidupmu adalah untuk bahagia, kamu akan
menemui masalah bahwa manusia mengalami kesedihan sebagai proses atau bagian
dari kebahagiaan, karena keduanya selalu bertentangan kayak siang dan malam. Selain itu konsep tujuan hidup yang
utama misalnya hidup bahagia dengan
sederhana , kaya-pun punya masalah bro, gimana mau bahagia. Maka dari itu jangan
jadikan tujuan hidup sebagai sebuah ideologi mutlak yang mana memberikan
satu-satunya jalan untuk hidup, karena nantinya bakal relatif bro. (mulai deh ceramah, hahaha).
Namun jika kamu bicara proses maka kamu bisa mendapatkan kemungkinan
untuk lari (atau bisa dianggap usaha) mencari dari jawaban dari tujuan hidup. Semuanya
adalah proses, misalnya tidak selamanya air itu akan mencair, adakalanya air
membeku, dan menguap. Tidak ada satu materi di dunia ini yang kekal mutlak
karena ia akan berubah menjadi materi lainnya, ia akan senantiasa berubah
seiring jaman. Hanya bicara lamanya waktu yang di perlukan saja untuk berubah. Bahwa bagi saya kita akan selalu mengalami
proses berubah, maka
bagi saya tujuan hidup saya adalah “berproses” dimanapun saya nantinya berada.
Saya selalu berkeinginan untuk menjadi salah satu yang terbaik, not the best but one of them (semboyan SMA saya haha) karena menjadi yang “paling baik” artinya kita tak bisa berbagi kemampuan kita, dengan alasan merahasiakan atau menjaga power kita agar selalu di atas. karena saya enggak mau orang di sekitar saya semakin lemah gara-gara saya. Saya ingin mereka juga sama dengan saya. Dengan begitu kita bisa sama-sama hebat hahaha. Hal ini memunculkan dinamika proses, artinya bahwa saya ga akan selamanya di atas, atau mereka bisa saja saya kalahkan alias saya yang di atas. hahaha. Yah, seperti itu justru menyenangkan bagi saya. Bersaing dengan semangat membara. Tapi saat kita diatas maka kita harus ringan tangan membantu yang kalah untuk kembali melawan kita. Hahaha dan jika saya kalah, ya saya akan berjuang untuk bisa setara dengan mereka yang aku “anggap”. karena itulah Proses Hidup saya. hehe. Kalo saya kalah telak ya “mungkin” akan di bantu oleh “yang aku anggap” karena Mungkin hukum “karma” berlaku bro. haha. Karena kebaikan selalu berbuah manis. Hehe. Sehingga konsep sampai Win-win mungkin bisa terjadi dan keseimbangan terus terjaga meski terjadi pergolakan persaingan. hahaha
Saya selalu berkeinginan untuk menjadi salah satu yang terbaik, not the best but one of them (semboyan SMA saya haha) karena menjadi yang “paling baik” artinya kita tak bisa berbagi kemampuan kita, dengan alasan merahasiakan atau menjaga power kita agar selalu di atas. karena saya enggak mau orang di sekitar saya semakin lemah gara-gara saya. Saya ingin mereka juga sama dengan saya. Dengan begitu kita bisa sama-sama hebat hahaha. Hal ini memunculkan dinamika proses, artinya bahwa saya ga akan selamanya di atas, atau mereka bisa saja saya kalahkan alias saya yang di atas. hahaha. Yah, seperti itu justru menyenangkan bagi saya. Bersaing dengan semangat membara. Tapi saat kita diatas maka kita harus ringan tangan membantu yang kalah untuk kembali melawan kita. Hahaha dan jika saya kalah, ya saya akan berjuang untuk bisa setara dengan mereka yang aku “anggap”. karena itulah Proses Hidup saya. hehe. Kalo saya kalah telak ya “mungkin” akan di bantu oleh “yang aku anggap” karena Mungkin hukum “karma” berlaku bro. haha. Karena kebaikan selalu berbuah manis. Hehe. Sehingga konsep sampai Win-win mungkin bisa terjadi dan keseimbangan terus terjaga meski terjadi pergolakan persaingan. hahaha
Maka tujuan hidup, adalah satu titik bagi kita untuk menentukan
titik koordinat agar kita tidak tersesat dalam proses kehidupan, akan tetapi
apa sih yang garis lurus koordinat
dalam hidup?. Tentunya akan ada sedikit kelokan, meski itu bersifat mikro, dan
tak lurus mutlak. Karena itu dengan proses, maka saya bisa lebih bisa sedikit
lunak pada tujuan tertentu dan fleksibel dalam menjalani hidup dan tentunya
saya bisa “diterima” dengan “lunak nya” saya.
Bagi saya tak ada tujuan hidup yang menjadi titik akhir dan mutlak,
kita selalu berproses hidup karena jika anda gagal habislah sudah. Seperti lingkaran
berputar terus menerus. Orang agama (dalam agama saya : Islam) bilang bahwa
kita akan hidup kekal kelak, benar kan?. Dalam hidup kita selanjutnya (sesudah
mati) ketika kita ada disana, mungkin kita akan memulai dengan tujuan hidup baru
dalam proses hidup yang kekal selamanya, karena kekal mungkin tujuan hidup akan
terus berjalan dan tak mengenal titik akhir seperti lingkaran bulat yang tak ada ujung .
Meski saya labil, saya ingin mengerti dan mengenal Tuhan lebih dekat
karena itulah proses hidup. Saya ingin tahu tuhan itu seperti apa?, kenapa dia
begitu menjadi misteri?.
Kamis, 5 Desember 2013, pukul 00:11
Sulistyawan
No comments:
Post a Comment