Search This Blog

Wednesday, December 4, 2013

TUJUAN HIDUPKU?




Jika brother ditanya tentang apa sih tujuan kamu hidup di dunia? wadoh, bagi orang ga mudah percaya sama ideologi di dunia macam saya. haha, “ga mudah percaya” adalah mungkin trik saya atau mungkin kita dalam menyembunyikan yang dianggap orang “ tak ada pendirian pasti”, alias “labil”. soalnya setipis kulit ari sih beda-innya  hahaha.
(dalam hati: kenapa si harus tujuan hidup yang orang ini bicara-in? ga da kerjaan lain tah?) haha.. waduh bro masalahnya kita hidup untuk apa dong kalo engga punya tujuan?. Jawaban inilah yang perlu kita pertimbangkan karena tujuan hidup   merupakan alasan kenapa kita hidup di dunia. Jawaban kita berdiri di bumi, bayang-in aja manusia hidup engga ada program-program yang harus kita lakukan di dunia. mati aja bro (jangan dilaku-in beneran ya bro) hahaha

Nah klo saya ditanya “apa sih tujuan hidup lo?”. Gua bakal mengalami masalah, mikir keras, dan akhirnya “not found” dalam otak saya hahaha. permasalahannya adalah  ga mudah percaya alias orang labil macam saya, adalah lo naggung dalam idup, misalnya:
1.       Kata temen saya:  hidup untuk bahagia
Wah ini mirip dengan paham hedonisme ya.. Haha, tapi ternyata anggapan saya salah bro, karena baginya bahagia ga harus apa yang diinginkan itu terpenuhi, tapi asal hati merasa “cukup dan senang” itu udah bahagia bro, ga nyusahin orang lain, masalahnya adalah orang seperti saya ga pernah merasa cukup bro ingin ini, itu, dan sebagainya .

Saya juga melihat bahwa kita hidup tak pernah bisa mulus bahagia mulu. tapi akan selalu ada kesedihan-kesedihan. Ketika kita sudah sangat merasa bahagia, maka sedikit sekali hal kecil atau hal yang membuat kita senang hilang kita akan sangat sensitif dan akhirnya bro bertemu dengan yang namanya “galau berjuta rasa” hahaha.. Itulah yang saya hadapi, bahwasanya manusia semakin bahagia ia juga besar kemungkinan menerima rasa sakit dengan rasa yang “sedikit” lebih sakit ketimbang orang yang anggap biasa. Karena mungkin hukum ada cahaya disitu juga ada bayangan berlaku bro (haha ngutip Naruto).

2.       Saya hidup ya untuk orang lain
Anggapan kita ada karena (dianggap) orang lain itu logis bener bro, kita hidup adalah untuk bergaul bareng temen, atau keluarga, misalnya ortu, istri, anak atau orang lain gitu-lah. intinya adalah asal orang lain (yang menerima kita) itu seneng ya artinya kita juga seneng. Orang ini baik bener ya bro, hahaha.. Ga rugi punya temen seperti ini,

Tapi masalahnya bro, apakah ini tujuan hidup kita?, coba dipikir dulu geh,  enggak selamanya orang yang menjadi tujuan hidup kita bisa sebaik kita, bisa jadi dia musuh, dan gimana kalau tujuan hidup kita misalnya musnah atau berpaling? waah.. Mungkin orang seperti ini bisa bunuh diri. Bisa sih, Mungkin mengubah tujuan hidupnya dengan orang lain adalah jalan lain yang bisa dia peroleh, Akan tetapi bahwa telah memutuskan tujuan kita hidup adalah untuk “dia” telah berubah, maka apa lagi makna sebenarnya tujuan hidup, karena  adalah “hanya dia” alasan kita hidup jika berganti atau hilang, artinya juga hilang dong maknanya sebagai tujuan hidup. labil deh hahaha….

3.        Mau jawab saya idup karena dan untuk Tuhan
Nah ini mungkin sebagian dari saya bisa menerimanya, tapi bagi saya, Tuhan-pun ga yakin bakal terima saya (soalnya syarat dan ketentuan tetap berlaku bro dan saya mungkin ga memenuhi syarat Tuhan yang berlaku di agama saya, hahaha).

 Agama A bilang paling benar, terus agama B-nyalah yang paling benar, trus agama C lah yang pualing benar. trus mana yang benar A, B, atau C?. Orang labil macam saya ya cuma bisa ngeliat aja debat2 agama, perang, intrik, dan persaingan ga berkesudahan gara-gara ngerasa paling benar.

Selain itu permasalahannya adalah bahwa bukan aku pula yang menentukan masuk surga atau  enggak tapi kenyataannya adalah Tuhan sendiri. Bagi orang yang taat agama, sudah pasti jawabannya tujuan hidupnya semata-mata adalah untuk tuhan, tapi bagi saya yang labil, selalu dirundung kebingungan Tuhan mana yang benar? karena bagi tiap agama, tuhan yang berkuasa ya cuma tuhannya itulah.  

Karena saya sulit percaya menjadi kendala saya untuk mempercayai pada satu agama, mungkin kamu bilang saya atheis, atau orang yang gila “aneh” dengan konsep liberalnya yang berlatarbelakang pluralitas ekstrem.  Terserah kamu aja, saya mah terima (males diajak debat hahah), jika kamu bilang saya atheis (dalam artian bahwa saya enggak percaya adanya tuhan)  yang pasti saya percaya adanya Tuhan untuk menjawab keberadaan alam semesta yang ngeksis ini, haha mungkin saya butuh proses belajar agama lebih dalam untuk mengerti.

Klo kamu bilang saya orang liberal dengan pluralisnya, saya mungkin iyain aja, yah mau gimana lagi bro, saya enggak cuma gaul sama satu agama saja, saya lahir di Indonesia yang memiliki beragam etnik dan agama. Mau engga mau saya harus bergaul dengan mereka. Dengan sendirinya saya merasa mereka memiliki budaya dan kepercayaan yang intinya sama dengan saya cuma caranya aja yang beda. Mereka juga hidup layaknya kita, punya budaya berdasarkan perasaan dan punya budaya yang juga berdasarkan kasih, sama aja.

Gimana dengan Proses Hidup ?
Mungkin untuk menjawab sedikit pertanyaan saya di atas adalah kata “proses”, (dalem hati : loh kenapa proses?,kamu mau lari ya dari permasalahan tentang tujuan hidup yang ga jelasmu itu?) hahaha jujur saya iya-kan, saya mencoba lari dan menghindari dari permasalahan Tujuan Hidup dalam diri yang “not found” diatas. Tapi setidaknya bagi saya ada kaitannya kok, hehehe.
Bicara proses hidup dan bicara tujuan hidup mana yang paling sesuai adalah seperti menjawab pertanyaan duluan mana ayam atau telor ayam hahaha, terserah kamu. Namun bagi saya Tujuan Hidup itu Imajiner alias belum tentu ada atau akan terjadi. Seperti kamu mengukur dengan penggaris, saya tidak yakin bahwa itu penggaris menunjukkan semisal lurus mutlak bro. tidak ada satu benda-pun di dunia ini yang benar-benar lurus mutlak, iya tho?. 
Jika kamu bertanya apa tujuan hidupmu dengan konsep bahwa tujuan hidup manusia itu mutlak, maka akan selalu ada tujuan hidup lain yang ingin dicapai karena keinginan. Selalu ada pengecualian-pengecualian yang nampaknya saling bertentangan. misalnya tujuan hidupmu adalah untuk bahagia, kamu akan menemui masalah bahwa manusia mengalami kesedihan sebagai proses atau bagian dari kebahagiaan, karena keduanya selalu bertentangan kayak siang dan malam. Selain itu konsep tujuan hidup yang utama  misalnya hidup bahagia dengan sederhana , kaya-pun punya masalah bro, gimana mau bahagia. Maka dari itu jangan jadikan tujuan hidup sebagai sebuah ideologi mutlak yang mana memberikan satu-satunya jalan untuk hidup, karena nantinya bakal relatif bro. (mulai deh ceramah, hahaha).
Namun jika kamu bicara proses maka kamu bisa mendapatkan kemungkinan untuk lari (atau bisa dianggap usaha) mencari dari jawaban dari tujuan hidup. Semuanya adalah proses, misalnya tidak selamanya air itu akan mencair, adakalanya air membeku, dan menguap. Tidak ada satu materi di dunia ini yang kekal mutlak karena ia akan berubah menjadi materi lainnya, ia akan senantiasa berubah seiring jaman. Hanya bicara lamanya waktu yang di perlukan saja untuk berubah.  Bahwa bagi saya kita akan selalu mengalami proses berubah, maka bagi saya tujuan hidup saya adalah “berproses” dimanapun saya nantinya berada.   

Saya selalu berkeinginan untuk menjadi salah satu yang terbaik, not the best but one of them (semboyan SMA saya haha) karena menjadi yang “paling baik” artinya kita tak bisa berbagi kemampuan kita, dengan alasan merahasiakan atau menjaga power kita agar selalu di atas. karena saya enggak mau orang di sekitar saya semakin lemah gara-gara saya. Saya ingin mereka juga sama dengan saya. Dengan begitu kita bisa sama-sama hebat hahaha. Hal ini memunculkan dinamika proses, artinya bahwa saya ga akan selamanya di atas, atau mereka bisa saja saya kalahkan alias saya yang di atas. hahaha. Yah, seperti itu justru menyenangkan bagi saya. Bersaing dengan semangat membara. Tapi saat kita diatas maka kita harus ringan tangan membantu yang kalah untuk kembali melawan kita. Hahaha dan jika saya kalah, ya saya akan berjuang untuk bisa setara dengan mereka yang aku “anggap”. karena itulah Proses Hidup saya. hehe. Kalo saya kalah telak ya “mungkin” akan di bantu oleh “yang aku anggap” karena Mungkin hukum “karma” berlaku bro. haha. Karena kebaikan selalu berbuah manis. Hehe. Sehingga konsep sampai Win-win mungkin bisa terjadi dan keseimbangan terus terjaga meski terjadi pergolakan persaingan. hahaha
Maka tujuan hidup, adalah satu titik bagi kita untuk menentukan titik koordinat agar kita tidak tersesat dalam proses kehidupan, akan tetapi apa sih yang garis lurus koordinat dalam hidup?. Tentunya akan ada sedikit kelokan, meski itu bersifat mikro, dan tak lurus mutlak. Karena itu dengan proses, maka saya bisa lebih bisa sedikit lunak pada tujuan tertentu dan fleksibel dalam menjalani hidup dan tentunya saya bisa “diterima” dengan “lunak nya” saya.
Bagi saya tak ada tujuan hidup yang menjadi titik akhir dan mutlak, kita selalu berproses hidup karena jika anda gagal habislah sudah. Seperti lingkaran berputar terus menerus. Orang agama (dalam agama saya : Islam) bilang bahwa kita akan hidup kekal kelak, benar kan?. Dalam hidup kita selanjutnya (sesudah mati) ketika kita ada disana, mungkin kita akan memulai dengan tujuan hidup baru dalam proses hidup yang kekal selamanya, karena kekal mungkin tujuan hidup akan terus berjalan dan tak mengenal titik akhir seperti lingkaran bulat yang  tak ada ujung .
Meski saya labil, saya ingin mengerti dan mengenal Tuhan lebih dekat karena itulah proses hidup. Saya ingin tahu tuhan itu seperti apa?, kenapa dia begitu menjadi misteri?. 

Kamis, 5 Desember 2013, pukul 00:11

Sulistyawan

No comments: