Sebuah Komentar:
Pondok Pesantren Salafiah
By:Sulistyawan
Praktik korupsi di indonesia bak “jamur di musim penghujan”,
kita lihat sekarang bahkan di dunia
pendidikan banyak sekali praktik pendidikan yang seolah seolah seperti barang komoditas
untuk dikomersilkan. Didalamnya terdapat praktik tawar-menawar dengan sistem
seperti barang pelelangan, hanya anak siapa dan berani berapa untuk bisa masuk
kedalam sekolah-sekolah unggulan. Seperti misalnya universitas yang tidak saya
sebutkan namanya ada praktik seperti ini, ada beberapa oknum pegawai yang
secara sembunyi-sembunyi meminta sejumlah uang kepada pendaftar beasiswa agar
dapat lolos seleksi beasiswa yang diadakan universitas tersebut.
Meski begitu, masih ada satu pendidikan yang agak berbeda, tidak terpengaruh dan cenderung mengambil jalan berbeda dari kebanyakan
sistem pendidikan lainnya. Pendidikan ini memiliki ciri-ciri non-formal, murah
meriah dikantong rakyat miskin, jauh dari kemewahan namun tetap berjuang
mencetak dan membentuk masyrakat yang unggul dibidang agama, minimal lulusannya
dapat menjadi tokoh masyarakat yang disegani dan di hormati dalam acara yasinan
dan kendurian bahkan dalam hajat keagamaan lain sebagai penceramah dan lain
sebagainya. Jika dibandingkan, pendidikan ini dapat dikatakan sebagai
perlawanan untuk mengurangi menjamurnya pendidikan formal yang cenderung banyak
mencetak masyarakat yang kita anggap “sampah masyarakat berdasi putih”. Benar sekali, pendidikan yang saya maksud itu
adalah Pondok Pesantren Salafiah.