Search This Blog

Friday, October 25, 2013

Sebuah Komentar: Pondok Pesantren Salafiah



Sebuah Komentar: Pondok Pesantren Salafiah
By:Sulistyawan

Praktik korupsi di indonesia bak “jamur di musim penghujan”, kita lihat sekarang bahkan  di dunia pendidikan banyak sekali praktik pendidikan yang seolah seolah seperti barang komoditas untuk dikomersilkan. Didalamnya terdapat praktik tawar-menawar dengan sistem seperti barang pelelangan, hanya anak siapa dan berani berapa untuk bisa masuk kedalam sekolah-sekolah unggulan. Seperti misalnya universitas yang tidak saya sebutkan namanya ada praktik seperti ini, ada beberapa oknum pegawai yang secara sembunyi-sembunyi meminta sejumlah uang kepada pendaftar beasiswa agar dapat lolos seleksi beasiswa yang diadakan universitas tersebut.  

Meski begitu, masih ada satu pendidikan yang agak berbeda, tidak terpengaruh dan cenderung mengambil jalan berbeda dari kebanyakan sistem pendidikan lainnya. Pendidikan ini memiliki ciri-ciri non-formal, murah meriah dikantong rakyat miskin, jauh dari kemewahan namun tetap berjuang mencetak dan membentuk masyrakat yang unggul dibidang agama, minimal lulusannya dapat menjadi tokoh masyarakat yang disegani dan di hormati dalam acara yasinan dan kendurian bahkan dalam hajat keagamaan lain sebagai penceramah dan lain sebagainya. Jika dibandingkan, pendidikan ini dapat dikatakan sebagai perlawanan untuk mengurangi menjamurnya pendidikan formal yang cenderung banyak mencetak masyarakat yang kita anggap “sampah masyarakat berdasi putih”.  Benar sekali, pendidikan yang saya maksud itu adalah Pondok Pesantren Salafiah.


Jika kita lihat semakin berkembanganya Pondok Pesantren  Salafiah adalah tidak lepas dari dukungan masyarakat kelas menengah dan bawah yang hidup dalam garis kemiskinan, dimana masyarakat miskin ini masih tetap memiliki harapan penuh kepada pondok pesantren salafiah dalam mendidik putra-putrinya menjadi seorang pemuda yang berwasasan keilmuan yang dianggap tinggi didalam masyarakat namun dengan biaya yang cukup rendah. Berkembangnya pondok pesantren salafiah adalah tidak lepas dari kesenjangan antara masyarakat kelas bawah dan kelas atas yang makin kontras terlihat di Indonesia, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin dan tentunya si miskin semakin banyak.  Mereka yang miskin tidak memiliki banyak pilihan. Pondok Pesantren Salafiah adalah harapan masyarakat kelas menengah dan bawah untuk tetap dapat belajar meski dalam kondisi yang serba terbatas yang mungkin pula jalan yang hanya mereka ngerti dan ajarkan sebagai bentuk “mawas diri” kaum santri salafiah yaitu adalah tetap dalam jalurnya yang hidup dalam kesederhanaan daripada hidup dalam masyarakat yang menganut konsep sebagai seorang homo homini lupus. Hal ini menjelaskan mengapa pondok pesantren salafiah banyak tumbuh subur di desa-desa.

Pondok Pesantren Salafiah sebagai pendidikan bagi santri kelas menengah ke bawah adalah tidak lepas dari sistem pendidikan dan sistem manajemennya yang kebanyakan cenderung terbuka dan bersih yang berlandaskan atas ajaran agama. para santri yang menetap barangkali hanya dikenakan biaya 300 ribu rupiahan untuk satu bulan dan sudah termasuk makan dan fasilitas-fasiltas pendidikan lainnya yang cenderung seadanya dan sederhana. Saya sendiri waktu kecil yang biasa disebut sebagai “santri ngalong” melihat bahwa santri dari penduduk sekitar hanya dikenakan biaya sebesar 1000 rupiah perbulan atau berapapun jumlahnya namun tetap ingin belajar nyantri. Uang yang tak seberapa jumlahnya itu yang saya tahu, digunakan hanya untuk listrik dan keperluan sarana pendidikan lainnya seperti pembelian spidol, perawatan rebana dan lain sebagainya yang kadang menurut saya masih sangat jauh dari kata cukup hanya untuk membayar listrik sekalipun. Mungkin selebihnya ditanggung kyai yang seorang pensiunan PNS dan para ustad. 

Para kyai dan ustad mendasarkan diri pada keikhlasan mengajarkan ajaran agama karena bagi golongan santri pada umumnya, belajar dan mengajarkan agama adalah kewajiban bagi mereka. Ustad bahkan tidak dibayar sama sekali dalam mengajar dan mendidik muridnya . Mereka mendasarkan prilaku ini semata-mata karena perintah Tuhan yang harus mereka emban sebagai orang yang tahu banyak tentang ajaran agama Islam bukan atas kepentingan ekonomi duniawi yang cenderung mereka jauhi. 

Pada dasarnya Pondok Pesantren yang masih belum maju, yang kebanyakan adalah Pondok Pesantren Salafiah, dengan mendasarkan pada kesederhanaan dengan biaya yang murah, menurut saya adalah merupakan jalan yang mereka pilih sebagai bentuk perlawanan orang santri salafi terhadap sistem pendidikan saat ini yang mereka anggap sebagai semakin mengedepankan “kemewahan” dengan menyingkirkan sejauh-jauhnya kelas bawah yang kebanyakan kaum miskin. Santri salafi berusaha mengubah tataran dunia yang mengedepankan tujuan kehidupan yang serba beremewahan didunia dengan kehidupan sederhana dengan mengutamakan kehidupan ketika sesudah mati. 
Perbedaan mendasar inilah dan mungkin bagi saya adalah salah satu bentuk perlawanan santri salafi. Golongan ini menurut hemat penulis sangat menghindari dan bahkan cenderung menolak keserakahan, kesombongan dalam dunia pendidikan yang mereka anggap semakin pongah dan lupa diri terhadap tujuan pendidikan yaitu dengan mendasarkan tujuan atas kemewahan di dunia, yang untuk kemudian mereka bandingkan dengan bentuk kehidupan yang lain, yang dimana kehidupan di dunia empirik tidak ada apa-apanya sama sekali dibandingkan kehidupan yang dipercayai ada sesudah mati. Dimana menumpuk harta mereka anggap tidak membawa kebermanfaatan bahkan cenderung dianggap membawa keburukan. Kecenderungan inilah membuat kaum santri salafi adalah mereka yang menganggap dirinya pejuang membela kaum lemah dan miskin namun tetap membuat mereka yang lemah dan miskin dalam kehidupan kesederhanaan yang mengarah pada kecukupan yang dianggap “pas” bagi mereka.  yang  barangkali sebagian lagi menganggap agak  miskin, dimana hal ini  justru dianggap akan membawa “kebahagiaan sejati” baik di dunia empirik maupun dunia sesudah mati. 

Hal ini terlihat dengan pola pengajaran klasik yang sederhana dalam pondok salafi yang masih menggunakan kitab-kitab kuno dari ulama’-ulama’ islam sebelumnya yang disajikan dalam syair-syair arab  dan hukum-hukum islam yang dibukukan dalam bentuk kitab kuning dan kitab-kitab buatan ulama sebelumnya yang kemudian masih sering diterjemahkan dalam bahasa jawa dalam bentuk tulisan arab gundul. Selain hukum islam murni seperti fiqih kebanyakan kitab tersebut menurut saya mengajarkan tentang ajaran Islam seperti misalnya aqidah yang ditransformasikan atau dikaitkan kedalam norma-norma dan nilai-nilai yang cenderung mengajarkan kesederhanaan, sopan santun, dan nilai-nilai kemasyarakatan yang sesuai dalam masyarakat jawa. ajaran ini bagi santri yang masih muda dalam pondok salafiah harus mereka  serap dan dipatuhi sebelum mereka belajar agama islam lebih dalam lagi seperti ilmu bahasa dan logika (mantiq) dan tasawuf .

Pola pemikiran seperti ini  menurut saya terbentuk akibat ketidakadaanya pilihan bagi santri  salafi yang kebanyakan miskin dan terbatas. Karena berbeda halnya dengan santri dalam pondok yang dianggap modern. Santri pondok modern bagi saya adalah mereka yang berusaha mengedepankan kedua dunia baik dunia empirik maupun dunia sesudah mati. Artinya bagi mereka bahwa golongan santri saat ini dan umat islam haruslah maju dalam kedua-duanya.  Berbeda dengan salafi yang masih menggunakan ajaran agama dan tata kelakuan norma dan nilai kemasyarakatan yang membentuk santri salafi bersifat cenderung menghindari keduniawian untuk bisa mencapai kebahagiaan, santri pondok modern juga diajarkan ajaran-ajaran yang tidak hanya ajaran agama islam dan tata kelakuan, norma dan nilai, namun ada ajaran yang sifatnya keduniawian seperti ajaran ekonomi, jurnalistik dan sebagainya sehingga santri pondok modern juga mengedepankan dunia. Ketidakadanya pilihan bagi santri pondok pesantren salafiah inilah  yang membedakannya dengan santri pondok modern. Sistem pendidikan yang berbeda seperti inilah sehingga pula mempengaruhi pola pemikiran santri pondok pesantren salafiah dengan pondok pesantren modern seperti yang saya jelaskan diatas.

No comments: