Berdasarkan catatan penelitian, diperkirakan keris yang ada di Indonesia sebagai senjata pertahanan diri telah ada sejak masa 230 M Pada masa Kerajaan Medangkamulan, tetapi hal ini masih dapat diperdebatkan dimana dalam dokumen kuno menunjukkan keris telah ada sebelum itu (Arifin dalam (Ariwibowo et al., 2017).
Selain Suku Jawa dan Bali Keris juga menjadi budaya yang tidak terpisahkan oleh orang melayu lain sejak jaman dahulu. Keris diturunkan dari ayah ke anak ketika sang anak telah menjadi dewasa (THE KERIS (KRIS), 2001). Pada awalnya keris secara spesifik digunakan dalam pertempuran tetapi kemudian fungsinya berubah menjadi senjata seremonial dalam upacara-upacara tertentu (laku spiritual) dan seimbol kebudayaan saja (THE KERIS (KRIS), 2001). misalnya Masa keemasan keris di Indonesia terutama di Jawa ada pada masa Sultan Agung pada periode 1613-1645. Keris pada masa itu didukung oleh material yang paling baik dan diisi oleh kekuatan magis yang sangat kuat (Ariwibowo et al., 2017).Dalam penelitian Pedersen di Bali, Sejarah
keris di Bali cukup menarik. Ketika pada masa pengaruh Majapahit di Bali yaitu
pada sekitar abad 4 Masehi. Pada saat itu upacara Maligya[1]
pertama kali dilakukan, upacara itu dihadiri oleh Orang Bali yang dipimpin oleh
Raja Majapahit yang terkenal, Hayam Wuruk di istananya.
“Ketika
utusan Bali hendak pulang, Kaisar bertanya kepada penguasa Bali, Dalem Ketut
Ngulesir, apakah mereka di Bali kekurangan sesuatu. "Apa yang
hilang," jawabnya, "adalah sesuatu yang memurnikan bumi, alam Bali.
Yang belum kita miliki." "Jika demikian," jawab Kaisar,
"Aku akan memberikan kepadamu Keris Suda Mala [belati upacara penyucian]
ini. Dengan kualitas suda mala, ia membersihkan baik mikro maupun makro
kosmos." Dalam perjalanan kembali ke Bali, di penyeberangan sungai Canggu,
Keris Suda Mala jatuh ke air [dan] tenggelam ke dasar. Melalui meditasi ia
keluar kembali. Air terbuka, keris muncul kembali, dan masuk kembali ke dalam
penutupnya. Sejak saat itu, ia memperoleh nama tambahan Bengawan Canggu [Sungai
Canggu]. Setiap kali ada upacara besar di Bali, air suci yang diolah dari keris
digunakan untuk menyucikan alam. Keris Bangawan dengan demikian merupakan
hadiah langsung dari Majapahit, dari Kaisar sendiri.” (Pedersen,
2002)
Saat ini keris
hanya digunakan dalam upacara-upacara dan ritual-ritual tradisional sebagai
salah satu benda pusaka yang dianggap memiliki kekuatan magis. Misalnya dalam Drama
Tari Randai di Minangkabau Sumatera Barat. Di dalam tari drama ini menceritakan
tentang kisah kepahlawanan yang seringkali terdapat adegan pertarungan menggunakan
keris (Forshee,
2006)
Referensi
Ariwibowo, W.,
Purwasito, A., & Pitana, T. S. (2017). SHAPES OF JAVANESE KERIS AS A
SYMBOLIC SIGN: TRANSFORMATION TOWARD THE ISLAMIC PERIOD. El-Harakah : wacana pemikiran keagamaan, keilmuan, dan kebudayaan, 19(2),
195-208. https://doi.org/10.18860/el.v19i2.4057
Forshee, J. (2006). Culture
and Customs of Indonesia. Greenwood Press.
THE KERIS (KRIS). (2001). https://search.proquest.com/reports/keris-kris/docview/214156118/se-2?accountid=17242
Pedersen, L. (2002). The
sphere of the keris: Power and people in a Balinese princedom (Publication
Number 3073835) [Ph.D., University of Southern California]. ProQuest
Dissertations & Theses Global. Ann Arbor. https://search.proquest.com/dissertations-theses/sphere-keris-power-people-balinese-princedom/docview/305543170/se-2?accountid=17242
No comments:
Post a Comment